hmm...setelah lama g nulis di blog karena pekerjaan yang menumpuk sekali. upz..tapi bukan Mati Gaya!!
Pada tulisan ini ,saya akan bercerita tentang kisah saya bersama kekasih yang saya lalui berdua.
oww..mengapa ya judulnya " Kekasihku Suka Berpetualangan " ??
Pada awalnya, kami telah beberapa hari tidak bertemu dikarena kesibukan masing-masing yang tidak bisa ditinggalkan. Nah disuatu malam kami bertemu dijalan,setelah sebelumnya saya hubungi ke Hp nya untuk ketemuan.
Karna dia ada keperluan yang mendesak, kami bertemu hanya sebentar saja. Padahal kami saling rindu dan kangen. Pada malam itu juga saya mengajaknya untuk jalan2 esok harinya sabtu 18-07-2009. Karna dia juga kangen berat, dia setuju dengan ajakan saya tadi dan dia juga berniat untuk mengajak saya mengelilingi pulau pisang yang terletak di Pantai Air Manis (Legenda MAlin Kundang)
Pada hari sabtu sekitar jam 1 kami berangkat dari rumah menuju rumah nenek saya untuk menitipkan motor. Kami berniat kesana dengan angkot dan kemudian berjalan mendaki bukit untuk sampai ke Pantai Air Manis
dan kemudian mengelilingi Pulau pisang dengan berjalan pula.
Setelah sampai di Pantai air manis kami duduk sejenak untuk melepas penat dengan minum air Aqua sebotol berdua. kami duduk di jembatan yang di suguhkan dengan suasana pantai yang indah dan angin yang berhembus sepoi-sepoi yang membuat letih kami segera reda. Sesudah istirahat kamipun berjalan menuju Pulau pisang yang tidak jauh dari Batu Malin Kundang.
Untuk bisa sampai ke pulau pisang, kami harus rela basah-basah untuk menuju kesana yang pada saat itu air laut pasang (besar). Biasanya kalau pasang kecil( air laut kecil ) menempuh pulau pisang kita tidak perlu basah-basah.
Setelah sampai dipulau pisang,kami duduk sejenak untuk melepas lelah dan sambil mengeringkan celana yang basah terkena air laut.Tidak berapa lama, celana pun udah mulai kering walaupun masih terasa keset-keset di kaki karna air garam laut, kami pun berjalan ke sisi kiri pulau untuk menjalankan niat kami yang ingin mengelilingi pulau pisang.
Sekitar 100 meter berjalan kamipun putus asa untuk melanjuti perjalanan karna saya merasa jalannya udah mentok. Kamipun duduk diatas batu yang pas untuk 2 orang ditambah dengan suasa pantai yang indah dan angin yang berhembus sepoi-sepoi yang bikin mata mengantuk. Karna suasana yang begitu indah, kami sempat tidur-tiduran diatas batu sambil bercerita. Keasikan bercerita, kamipun dikejutkan dengan 3 orang pemancing yang datang dari arah ujung pulau. Kamipun langsung salah tingkah,dengan pura-pura berfoto yang sebelumnya kami begitu mesra. Kemudian saya langsung bertanya " Da,ado jalan tembus ka sabaliak da atau bisa mangalilianggi pulau iko da"?? Artinya : " Mas, ada jalan tembus kesebelah mas atau bisa mengelilingi pulau ini mas"?? dan diapun menjawab" bisa dek ".
Dengan bertemu 3 orang pemancing tadi, semangat saya tumbuh kembali untuk mencapai niat " Mengelilingi Pulau pisang ", sayapun mengajak kekasih untuk jalan kembali.Kamipun terus berjalan diselah-selah batu pulau untuk menuju ke sebelah / sisi kanan pulau dengan bergandengan tangan biar tidak terpisah.
Sesampai diujung pulau, ternyata jalan kami mentok karna ada jurang yang dalam yang sangat berbahaya dengan air laut yang ganas dan bebatuan karang yang runcing-runcing bak seolah tajamnya anak panah.
Yang terpikir oleh saya pada saat itu adalah " Tidak mungkin saya berbalik lagi padahal sudah hampir sampai dan kalau sudah maju jangan pernah menyerah ".
Loh..kok kayak tentara aja ya?? hehe....
Dengan hati-hati dan dibekali sedikit ilmu alam, sayapun mencari alternatif jalan lain agar bisa sampai kesebelah untuk mengelilingi pulau tanpa berenang dan melompat kejurang.
Kamipun menempuh jalan dengan memanjat bebatuan tidak begitu miring alias curam, dengan menyakinkannya tidak akan terjadi apa-apa. Sayapun menyuruh dia untuk memanjat duluan yang saya berusaha menjadi tumpuannya / penopang dia agar berhasil memanjat dan menyuruh untuk memegang apapun yang diperoleh sebagai pegangan.
Dengan mengeluarkan semua tenaga, akhirnya dia sampai juga keatas dan kemudian saya menyusulnya tanpa ada resiko yang berarti!!
Dengan nafas yang sesak dan sedikit cemas, sayapun menyuruh dia untuk mengambil nafas panjang-panjang dan kemudian hembuskan. seperti....HHHMMMMMMmmm...AAhhhhHHH hehe..!!
Setelah lega kamipun melanjutkan perjalanan dengan melewati bibir jurang dengan hati-hati.Saya selalu memegang tangan kiri dan kanannya sambil menjadi penunjuk jalan tempat dia berpijak. Kamipun terus berjalan dan berjalan sampai akirnya melewati jurang tersebut.
Tidak lama kemudian kami berjalan, akhirnya sampai di ujung pulau yang jalan untuk menempuh kebagian pulau yang belum terlewati yang tidak berbahaya, karna kami sudah pernah jalan sebelumnya.
Dengan rasa senang karna niat berpetualangan mengelilingi pulau pisang berhasil, sayapun berteriakan sekuat tenaga " HORE BERHASILLLLLLL...."Karna melihat saya berteriak, secara refleks dia memeluk saya begitu erat dengan wajah yang pucat bercampur senang. pelukan itu semakin erat dan erat!!
Sambil memeluk, dia berkata " makasih telah menjaga,membimbing dan memberi saya semangat "
Akhirnya niat kami mengelilingi pulau pisang sukses, kamipun begitu gembira bercampur lelah dan melepas penat dengan tawa kegiragan. Karna hari sudah mulai sore kamipun bergerak pulang untuk meninggalkan pulau yang menjadi petualangan kami berdua.
Demikianlah ceritaku tentang Petualangan Kami Berdua Mengelilingi Pulau Pisang.
Jangan lewatkan cerita saya bersama kekasih dicerita yang lain...!!!
SEBUAH peninggalan sejarah penting yang diduga berkaitan dengan sejarah Minangkabau dan Pagaruyung terbenam di dalam Danau Singkarak. Belum ada laporan upaya penelitian dengan melakukan penyelaman sejak informasi ini dibuka pada 1970.
Tim Research Pengumpulan Data-data Sejarah Minangkabau yang diketuai Drs. Hasan Basri melaporkan dalam Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau di Batusangkar, Agustus 1970.
Tim yang mengumpulkan berbagai informasi tentang Minangkabau dan Pagaruyung mendapatkan cerita adanya ‘batu basurek' (batu bertulis) di Batu Baraguang, Sumpur, tepi Danau Singkarak. Tapi batu tersebut sudah terbenam beberapa meter ke dalam danau.
Di bawah batu basurek tersebut ada terdapat ‘batu bajanjang' (tangga batu) yang turun ke dalam danau dan di tengah danau tangga tersebut menonjol ke atas dan turun lagi kira-kira 1 km dan naik lagi sampai ke pantai seberang Jorong Sudut Sumpur.
"Menurut keterangan penangkap ikan, bagian tangga yang meninggi itu hanya beberapa meter di bawah air permukaan danau, dan di kiri-kanan batu bersurat tersebut terdapat gua-gua," demikian isi laporan tim yang dikutip dari makalahnya.
Apa isi surat yang terpahat di batu itu, adakah kaitannya dengan Adityawarman, untuk apa tangga tersebut, kenapa sampai terbenam di dasar Singkarak, apakah juga karena gempa mengingat patahan Sumatera melewati danau itu? Belum ada jawabannya.
Label: Sejarah Minang Kabau

SENJA baru datang di Kenagarian Siguntur, pinggir sungai Batang Hari, Kabupaten Dharmasraya. Di halaman rumah gadang Kerajaan Siguntur yang berbentuk rumah adat Minangkabau yang bergonjong, Sang Raja duduk di kursi singgasana. Tangan kanannya memegang tongkat menatap lurus penuh wibawa.
Di kiri-kanannya, dua hulubalang berpakaian merah memegang pedang panjang tua yang tak lagi berkilau. Empat perempuan, tiga di antaranya tua, bersiap dengan alat musik tradisional mereka.
Seorang di antara perempuan tua itu seperti terjepit di tengah gantungan dua buah gong besar. Di tangannya tergenggam sepotong kayu pemukul, siap diketukkan kiri dan kanan.
Seorang perempuan tua lainnya duduk di belakang deretan talempong atau gong-gong kecil yang tersusun berdasarkan nada. Seorang lainnya memegang gendang panjang di pangkuan, dan seorang lagi memegang gong lebih kecil.
Lalu masuklah enam perempuan muda penari dengan selendang merah tipis di tangan, membentuk dua barisan mengambil posisi di hadapan raja. Menyusul kemudian delapan pendendang muda, putra dan putri, empat di kiri dan empat di kanan, mengapit penari.
Maka musik pun dimulai, lalu tari, dan dendang. Pendendang menyampaikan syair serentak dalam bahasa Minang dialek Siguntur yang khas, mirip dialek Payakumbuh. Menyampaikan kisah yang syairnya berkali-kali diulang, namun tetap enak didengar.
Penari memainkan selendang. Melenggok kiri dan kanan, kadang berputar. Beberapa menit menjelang 25 menit waktu pertunjukan, seorang berpakaian hitam, mirip pakaian silat Minang, masuk bersimpuh minta ampun di hadapan Raja. Lalu Sang Raja mengampuninya dan berpesan agar perbuatannya tidak diulangi lagi.
Maka pertunjukan Tari Toga, tari tradisonal Kerajaan Siguntur pun usai. Para pemain, termasuk yang menjadi Sang Raja yang semuanya masih remaja itu mengganti kostumnya.
Tari Larangan
Tari Toga yang artinya "Tari Larangan" adalah tari tradisional kuno Kerajaan Siguntur, kerajaan yang masih berhubungan dengan Kerajaan Minangkabau di Pagaruyung dan konon masih berhubungan dengan Kerajaan Malayu Dharmasraya di zaman Hindu-Buddha. Karena masih berhubungan dengan Minangkabau dan Malayu, beberapa gerak tari ini mirip dengan tari minang dan melayu.
Menurut Pewaris Kerajaan Siguntur, Tari Toga merupakan tari resmi kerajaan sejak zaman Kerajaan Dharmasraya yang berpusat di Siguntur pada abad ke-14. Tari ini masih dipakai ketika Kerajaan Hindu-Buddha itu beralih ke Islam yang salah satu di antaranya menjadi Kerajaan Siguntur sejak abad ke-15 atau tahun 1673 dengan raja Islam pertama Sutan Abdul Jalil Sutan Syah Tuanku Bagindo Ratu.
Waktu itu Tari Toga menjadi tari resmi kerajaan dan ditampilkan pada upacara penobatan raja (batagak gala), pesta perkawinan keluarga raja, upacara turun mandi anak raja, perayaan kemenangan pertempuran, dan gelanggang mencari jodoh putri raja.
Ketika Belanda berhasil masuk ke Siguntur pada 1908 dan raja-raja di Siguntur dan sekitarnya terpaksa mengakui kedaulatan Pemerintahan Kolonial Belanda, raja kehilangan kedaulatannya. Banyak benda kerajaan yang diambil, termasuk tambo (riwayat kerajaan yang tertulis) dan aktivitas kesenian kerajaan, termasuk Tari Toga, pun vakum sudah.
"Tari Toga nyaris hilang, tari itu sudah lama tidak dimainkan dan hanya diingat dengan cerita turun-temurun, saya mengumpulkan informasi lagi dan menghidupkan kembali pada 1989," kata Tuan Putri Marhasnida, salah seorang pewaris Kerajaan Siguntur kepada PadangKini.com. Marhasnida adalah adik sepupu raja sekarang, Sultan Hendri Tuanku Bagindo Ratu.
Ketika dirintis Marhasnida pada 1980-an, para penari dan pendendang sudah banyak yang meninggal. Untunglah ada seorang kakek yang usianya sudah lebih 80 tahun. Ia bekas pendendang yang masih hidup. Sang kakek masih hafal semua dendang Tari Toga karena sejak tidak lagi berdendang, ia sering melantunkan dendangnya ketika Batobo.
Batobo adalah membersihkan kebun atau menyabit di sawah bersama-sama, 30 sampai 60 orang. Si pendendang selalu Batobo agar orang-orang tak bosan bekerja seharian, ia disuruh berdendang sambil bekerja.
"Itulah sebabnya syair tetap diingat, sedangkan tarinya masih ada seorang nenek yang sudah bungkuk mengingatnya, dari ingatan itulah saya susun kembali dan melatih remaja di keluarga Kerajaan Siguntur untuk menarikan Tari Toga," kata sarjana pendidikan seni Institut Kejuruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Padang (kini Universitas Negeri Padang) yang kini menjadi guru kesenian di SMP Negeri II Pulau Punjung, Dharmasraya itu.
Tari Toga modifikasi Marhasnida ini kemudian ditampilkan di Radio Republik Indonesia (RRI) Padang pada 1990 dan dimainkan dalam berbagai acara Kerajaan Siguntur, termasuk menyambut peserta "Arung Sejarah Bahari Ekspedisi Pamalayu" yang diselenggarakan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang, akhir Desember tahun lalu.
Cerita Hukuman Raja
Syair Tari Toga berisi cerita tentang seorang laki-laki yang baik hati bernama Sutan Elok yang mati ditanduk kerbau. Si pemilik kerbau bernama Bujang Salamaik dibawa ke hadapan raja untuk diadili. Raja akhirnya mengeluarkan titah agar ia dihukum pancung, hukuman biasa di zaman Kerajaan Dharmasraya.
Mendengar hukuman itu, maka Cati Bilang Pandai, penasehat raja, yang digambarkan dengan deretan pendendang, berdendang menghibur raja. Kata Cati, kenapa kerbau yang membunuh tapi pemiliknya yang dihukum mati. Dendang yang disampaikan bersama-sama itu akhirnya menghibur raja dari kegundahannya dan mengampuni si pemilik kerbau dengan pesan agar si Bujang Salamaik tidak melakukan kesalahan lagi memelihara ternaknya.
"Dulu dendang dan tarinyanya sampai 7 jam dan dilakukan para pemain yang usianya di atas 40 tahun, sekarang tidak selama itu dan penarinya saya pilih yang muda-muda biar gampang melatihnya," ujar Marhasnida.
Sebenarnya, Tari Toga dengan dendang Bujang Salamaik hanya satu dari beberapa dendang lainnya yang pernah hidup di Kerajaan Siguntur yang dilantunkan dalam Tari Toga. Sayang, hanya kisah Bujang Salamaik itu yang tersisa. Dendang lainnya, seperti Dendang Ameh, hanya diingat oleh generasi yang tinggal judulnya tanpa mengetahui isi dendangnya.
"Untunglah kami cepat merekam ingatan tentang Tari Toga dan cerita Bujang Salamaik yang artinya pemuda yang selamat dari hukuman raja, jika terlambat semuanya akan tinggal cerita kenangan," katanya.**
Sumber : www.padangkini.com

URLIK Tatubeket, lelaki Mentawai berusia 46 tahun asal Pulau Sipora, terpilih sebagai Ketua Dewan Pengurus Aliansi Masyarakat Adat Peduli Mentawai (AMA-PM) dalam Kongres Masyarakat Adat Mentawai, di Tuapejat, Sipora, dua tahun lalu.
Sebagai ketua sebuah organisasi yang mengatasnama masyarakat adat, Urlik terkesan jauh dari sosok seorang Mentawai yang dikenal melalu foto-foto selama ini. Begitu juga dengan 265 peserta kongres, sebagian besar laki-laki, yang datang dari berbagai pelosok kampung di Kepulauan Mentawai.
Urlik dan mereka tak satupun yang memiliki tato penghias tubuh sebagai seorang Mentawai. Padahal tato yang oleh orang Mentawai disebut ‘titi', adalah bagian dari kebudayaan Mentawai yang penting. Setidaknya, ini telah bisa membuktikan bahwa tradisi tato sudah mulai ditinggalkan oleh orang Mentawai.
"Sejak tahun 1950-an, setelah pemerintah mewajibkan penduduk harus memeluk salah satu dari lima agama besar yang diakui pemerintah, orang Mentawai tak lagi menghias tubuhnya dengan tato, kecuali di beberapa kampung pedalaman di Siberut yang masih ada hingga kini," kata Urlik.
Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan adalah tiga pulau di mana orang Mentawai yang berdiam di sana tak lagi menato dirinya sejak 1950-an. Menurut Urlik, di Pulau Sipora yang orang Mentawainya kini sekitar 8.000 jiwa, yang masih memiliki tato tak lebih dari 10 orang. Tiga laki-laki dan selebihnya perempuan. Usia mereka di atas 70 tahun.
Hal yang sama juga terjadi di Pagai. Meski dihuni lebih 11.000 orang Mentawai, yang masih memiliki tato juga tak lebih dari 10 orang. Mereka juga berumur di atas 70 tahun.
"Bisa dipastikan, dalam 20 tahun ke depan tidak akan ada lagi orang Mentawai Sipora dan Pagai yang memiliki tato di tubuhnya," katanya.
Ada beberapa penyebab, menurut Urlik, kenapa tato hilang di Sipora dan Pagai. Pertama, ajaran agama yang melarang kepercayaan Arat Sabulungan, kepercayaan kepada roh-roh, dan menganggap tato bagian dari kepercayaan itu.
Kedua, upacara membuat tato diawali dengan rangkaian upacara lain yang lama (paling cepat enam bulan) dan banyak pantangan (larangan). Upacara ini disebut ‘punen'. Karena itu banyak orang Mentawai yang tidak ingin menjalankannya karena sangat berat.
Ketiga, ada rasa malu bagi orang Mentawai, terutama yang bersekolah ke luar daerah untuk menato dirinya, karena dianggap orang lain sebagai lambang keterbelakangan dan primitif. Kelompok orang Mentawai modern ini merasa lega terlepas dari budaya Arat Sabulungan.
Malu Karena Tidak 'Bulepak'
Protestan yang masuk ke Mentawai sejak 1901, menurut Urlik, merupakan agama yang paling keras melarang kepercayaan lama orang Mentawai dibanding Katolik yang masuk sejak 1955 dan Islam sejak 1952. Karena itu, Sipora dan Pagai yang mayoritas memeluk agama Protestan lebih cepat hilang kebudayaannya, termasuk tradisi tato.
"Saya masih ingat waktu kecil ada orang Mentawai bertato yang diusir dari jemaat oleh pendeta," kata Urlik yang juga pendeta GKPM (Gereja Kristen Protestan Mentawai) Saurenuk, Sipora.
Untuk bisa menato diri, suatu suku di Sipora harus melakukan ‘punen' yang paling cepat menghabiskan waktu enam bulan. Punen dimulai dengan mendirikan uma (rumah adat khas Mentawai) dengan memotong sejumlah babi dan mengikuti berbagai pantangan. Di antaranya tidak boleh melakukan seks dengan istri, tidak boleh memandang wanita, tidak boleh makan dan minum sebelum acara makan dan minum bersama, dan sebagainya.
"Acara puncak punen adalah dengan melakukan perjalanan ke Pulau Siberut sebagai asal orang Mentawai, acara itu disebut ‘Bulepak', ke sana naik sampan sampai 40 orang, jika sudah kembali dengan selamat menempuh ombak yang besar dari Siberut dengan membawa manik-manik khas Siberut, maka semua warga suku sudah boleh menato diri," kata Urlik.
Upacara seperti inilah yang berat dilakukan orang Sipora. Menurut Urlik, acara ‘Bulepak' terakhir yang dilakuan orang Sipora pada 1950-an. Setelah itu tidak ada lagi orang Mentawai di Sipora yang melakukan itu. Akibatnya, mereka tidak berani menato diri, karena syaratnya tidak ada.
"Mereka malu menato diri karena tidak pernah ‘Bulepak', setelah itu tak ada lagi orang Sipora yang bertato, hal yang sama juga terjadi di Pagai," katanya.
Ditato Itu Sakit
Di Siberut, pulau terbesar di Kepulauan Mentawai dan merupakan pusat dan asal kebudayaan Mentawai, masih ada sejumlah kampung pedalaman yang masih menggunakan tato. Di kampung-kampung di Sarereiket, Ugai, Matotonan, Madobak, Simatalu, Sakudei, dan Simalegi penduduknya masih memakai tato.
Meski di beberapa kampung para pemuda dan gadis yang mulai dewasa tetap ditato tubuhnya, namun yang meninggalkan tradisi tato jauh lebih banyak. Umumnya mereka yang sudah berinteraksi dengan dua modern, seperti melanjutkan pendidikan ke SMP dan SMA yang hanya terletak di ibukota kecamatan atau ke Padang.
"Umumnya kampung-kampung yang tradisi tatonya masih ada adalah yang menganut Katolik, sebab Katolik lebih longgar dan tidak sekeras Protestan melarang mereka, tetapi anak-anak muda yang bersekolah tak lagi mau ditato," kata Urlik.
Tradisi bertato memang mulai ditinggalkan di Mentawai, seiring dengan pangaruh dunia luar. Jika dulu orang yang bertato dianggap sebagai lambang orang yang sehat dan kuat di Mentawai, kini anggapan itu telah beralih sebagai orang yang terbelakang.
"Ditato itu sakit dan lagian lambang primitif," kata Gerson Saleleubaja, 24 tahun, pemuda asal Maileppet, Siberut Selatan, yang kini menjadi jurnalis di Tabloid Puailiggoubat, sebuah koran lokal di Mentawai.
Terlepas dari itu, sebenarnya tato tradisional Mentawai adalah khazanah dunia. Ady Rosa, peneliti tato Indonesia dari Jurusan Seni Rupa, Universitas Negeri Padang, menyimpulkan bahwa tato Mentawai termasuk tato tertua di dunia.
Sayang, belum banyak yang meneliti jenis dan makna tato di Mentawai. Ady Rosa sendiri baru meneliti penggunaan tato pada orang Mentawai di sejumlah kampung di Siberut dan belum meneliti tato di Sipora dan Pagai. Padahal, menurut Urlik, tato Sipora dan Pagai memiliki perbedaan tertentu dari tato Siberut.
Misalnya, di Sipora ada tato tiga garis lengkung di pipi dan satu garis lurus dari dagu hingga leher. Tato-tato ini belum diteliti dan akan segera hilang karena pemakainya yang sudah uzur.
160 Motif Tato
Tato oleh orang Mentawai tak hanya berfungsi untuk keindahan tubuh, tetapi juga lambang yang menunjukkan posisi atau derajat orang yang memakainya.
Ady Rosa, peneliti tato dari Jurusan Seni Rupa, Universitas Negeri Padang menyimpulkan, seni tato yang oleh orang Mentawai disebut ‘titi' mulai dikenal di Mentawai sejak orang Mentawai datang antara tahun 1500 sampai 500 Sebelum Masehi. Mereka adalah suku bangsa protomelayu yang datang dari Yunan, kemudian berbaur dengan budaya Dongson.
"Tato di Siberut sudah jauh sebelum bangsa Mesir mulai membuat tato sekitar tahun 1300 SM, jadi bukan tato Mesir yang tertua di dunia, tapi tato Mentawai," katanya.
Ady Rosa dalam laporan hasil penelitiannya berjudul ‘Fungsi dan Makna Tato Mentawai' (2000) menyimpulkan, ada tiga fungsi tato bagi orang Mentawai. Pertama, sebagai tanda kenal wilayah dan kesukuan yang tergambar lewat tato utama. Ini semacam kartu tanda penduduk (KTP).
Kedua, sebagai status sosial dan profesi. Motif yang digambarkan tato ini menjelaskan apa profesi si pemakai, misalnya sikerei (tabib dan dukun), pemburu binatang, atau orang awam. Ketiga, sebagai hiasan tubuh atau keindahan. Ini tergambar lewat mutu dan kekuatan ekspresi si pembuat tato (disebut ‘sipatiti') melalui gambar-gambar yang indah.
Menurt Ady, ada sekitar 160 motif tato yang ada di Siberut. Masing-masing berbeda satu sama lain. Setiap orang Mentawai, baik laki-laki maupun perempuan bisa memakai belasan tato di sekujur tubuhnya.
Pembuatan tato sendiri melewati proses ritual, karena bagian dari kepercayaan Arat Sabulungan (keparcayaan kepada roh-roh). Bahan-bahan dan alat yang digunakan didapat dari alam sekitarnya. Hanya jarum yang digunakan untuk perajah yang merupakan besi dari luar. Sebelum ada jarum, alat pentatotan yang dipakai adalah sejenis kayu karai, tumbuhan asli Mentawai, yang bagian ujungnya diruncingkan.
Sipatiti (pembuat tato) adalah seorang lelaki dan tidak boleh perempuan. Sebelum pembuatan tato harus diadakan ‘punen patiti' (upacara pentatoan). Upacara dipimpin oleh seorang sikerei. Upacara yang dilakukan dengan menyembelih beberapa ekor babi ini harus dibiayai oleh orang yang ditato dan hanya dilakukan pada awal pentatoan.
Membuat tato di Mentawai dilakukan tiga tahap. Tahap pertama pada saat seseorang berusia 11-12 tahun, dilakukan pentatoan di bagian pangkal lengan. Tahap kedua usia 18-19 tahun dengan menato bagian paha. Tahap ketiga setelah dewasa.
Proses pembuatan tato memakan waktu dan diulang-ulang. Tentu saja menimbulkan rasa sakit dan bahkan menyebabkan demam.**
Sumber: www.padangkini.com
Berhubungan alamat blog ini memakai nama saya, maka dari itu saya memutuskan untuk menukar alamat blog ini dengan http://ayo-ngenet.blogspot.com
Demikianlah pengumuman ini saya buat, semoga teman-teman blogger lebih sering mengunjungi dan memberi coment pada blog baru yang telah saya buat.
"SELAMAT NGENET"
Label: PENGUMUMAN
Di
Untuk itu saya ingin berbagi tips dan trik untuk mendownloadnya..Bacalah langkah-langkah di bawah ini :
Langkah-langkahnya
1. Bukalah
2. Klik kanan pada judul video yang ingin anda download
3. Lalu pilih copi link location
4. Dan paste pada kotak pencarian yang ada di
6. Lalu akan tampil download link yang berada dibawah tempat kita mempaste tadi
7. Kliklah download link tersebut
8. Maka dia mulai mendownload video tadi.
Berusahalah terus...jangan putus asa!!!
Selamat mencoba
Label: Tips Dan Trik
Anda bisa bermain internet gratis sambil menghasilkan uang..Enak kan!!!
Caranya gampang kok..ikuti langkah-langkah dibawah ini :
Cara Mendaftar
Cara mendaftar agloco sangat mudah, bisa dilakukan hanya dalam waktu tidak lebih dari 5 menit :
1. Klik tombol “Join Now” atau link menu “Mendaftar Agloco”
2. Isi form dengan data Anda.
3. Baca email dari Agloco untuk konfirmasi dan mendapatkan ID keanggotaan
4. sekali lagi jangan lupa buka email anda dan lakukan verifikasi. ini penting agar anda terdaftae sebagai member.
5. sign in ke site agloco.com
6.masukan email anda dan copy pasword yang ada pada email anda
7.lakukan perubahan pasword baru anda sesuai dengan yang anda inginkan
8.enjoy with it,
9. download viewbar agloco, menu pilihan download alternate supaya lebih mudah
10. setelah selesai download instal viewbarnya pada komputer anda dan masukan no ID dan pasword baru anda
11.ingat anda hanya membutuhkan waktu 5 jam setiap bulanya untuk menghasilkan uang anda.
# Untuk mengetahui lebih lanjut, silahkan hubungi : Andreis_ti_pdg@yahoo.co.id
daftar disini ya.... jangan lupa!!
Label: news
